Torosiaje, Cita Rasa Kota Di Atas Kampung Terapung

Rumah – rumah yang dibangun tanpa pondasi tersebut dari kejauhan terlihat hampir sama. Berbentuk memanjang, beratap seng, lantai dan dindingnya terbuat dari papan dan dibangun dengan menggunakan tonggak kayu yang saling berhubungan sebagai pondasinya. Antara rumah yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh jembatan menyerupai koridor memanjang. Jembatan itu juga berfungsi sebagai jalan utama yang memisahkan dua blok pemukiman apung. Uniknya, setiap koridor atau gang memiliki nama jalan layaknya jalan di darat.

Gambar

Hanya butuh waktu 5 menit untuk bisa sampai di pintu gerbang utama desa terapung ini. Ojek perahu, begitu mereka (suku bajo) menamai angkutan perahu dayung yang ditumpangi dari dan menuju ke perkampungan terapung. “Ojek” ini yang membawa kami ke tempat pemilik penginapan yang akan kami tempati.

Gambar

Saya tidak menyangka bila di tempat ini menyediakan penginapan untuk wisatawan atau pengunjung yang ingin menginap atau bermalam. Ada sedikit rasa was – was dan takut muncul dalam benak saya apabila tidak menemukan warung makan untuk bisa mengganjal perut jika dilanda kelaparan tengah malam. Dan, thanks God. Tuhan selalu ada untuk pelancong kere seperti saya..

Desa terapung ini bernama Torosiaje. Terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato yang dapat ditempuh sekitar 8 jam dari Kota Gorontalo. Perjalanan dari kota Gorontalo menuju desa Torosiaje dapat ditempuh jalur darat yang lumayan membuat pantat kram dan kesemutan. Tapi rasa itu tidak sebanding dengan pengalaman dan pemandangan yang akan didapat.

Gambar

Desa Torosiaje dihuni oleh suku bajo, suku yang terkenal sebagai pelaut ulung. Suku Bajo tidak hanya tersebar di pesisir laut Gorontalo seperti Torosiaje tetapi juga tersebar di seluruh Nusantara diantaranya di Pulau Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Togean (Sulawesi tengah), Nusa tenggara Timur, Kalimantan dan Papua.

Apa sih sebenarnya yang membuatmu begitu tertarik datang ke sana?

Pertanyaan yang dilontarkan oleh adik dan teman saya. Saya mencari jawabannya melalui mesin pencari tercanggih masa kini namun saya tetap tidak menemukan alasannya. Ketika sudah berada di sana, barulah saya tau.

Sebelumnya, saya pernah bertemu dengan suku bajo Togean, Sulawesi Tengah. Kehidupan suku bajo di sana sangat berbeda dengan suku bajo di Torosaje. Masyarakat bajo di Kepulauan Togean belum tersentuh modernisasi. Sebaliknya, di kampung terapung Torosiaje, sarana dan prasarana umum seperti sekolah, lapangan tenis, kantor desa, fasilitas MCK, rumah adat sudah tersedia dan tertata rapi. Rumah makan, penginapan, jajanan khas kaki lima seperti siomay, bakso, nasi goreng yang biasanya kita temui di darat juga bisa ditemukan di sini. Kebutuhan sehari – hari seperti sayuran, rempah – rempah dan bumbu dapur, dijual  di pasar dadakan yang digelar secara terbuka di gang – gang yang biasa dilalui. Setiap rumah pun sudah dialiri listrik. Rasa khawatir yang sempat muncul dalam benak saya bila tidak menemukan penginapan atau penjual makanan perlahan menghilang begitu saja. Fasilitas di desa ini sudah lengkap. Masyarakat bajo bahkan sudah mengenal alat komunikasi seperti telepon seluler. Modernisasi bukanlah “alien” bagi suku bajo yang lebih suka memilih hidup di laut.

GambarGambar

Salah satu kendala bagi mereka adalah fasilitas air bersih. Untuk kebutuhan air minum, mencuci dan memasak, para penduduk harus mengangkut air bersih dari kampung sebelah menggunakan perahu. Air PAM belum berfungsi sebagaimana mestinya. Aktivitas nelayan di pagi hari mengangkut air justru merupakan pemandangan unik di sela – sela hiruk – pikuk desa terapung Torosiaje.

Gambar

Ketika matahari terbenam, pemandangannya tidak kalah indah. Berjalanlah ke arah timur menuju rumah yang paling ujung. Tempat tersebut paling pas untuk menyaksikan matahari terbenam. Perpaduan antara warna matahari dan warna kayu membuat senja dan rumah apung bak lukisan di atas kanvas. Bila musimnya, di bulan – bulan tertentu pasca lebaran kampung Bajo ramai dikunjungi wisatawan lokal ataupun asing untuk menyaksikan festival Torosiaje. Acara yang digelar misalnya berupa lomba perahu dayung dan lain – lain.

***

Sehari merasakan hidup di tengah – tengah masyarakat bajo memberikan pengalaman yang berbeda buat saya. Menghirup aroma laut, mendengarkan percakapan yang menyerupai bahasa bugis dan tagalog dan menunggu matahari terbenam membuat saya ingin berlama – lama di desa ini. Menyantap ikan Bobara segar yang baru di tangkap dari tambak, berjalan menyusuri jembatan panjang desa Torosiaje adalah aktivitas yang menyenangkan yang bisa dilakukan ketika berwisata di desa terapung ini. Torosiaje, dengan masyarakatnya yang ramah dan kehidupannya yang unik merupakan desa wisata yang layak dikunjungi. Desa wisata yang membuat siapa saja tidak mati gaya ketika berkunjung ke tempat ini.

Gambar

***

Laut adalah sumber kehidupan. Oleh karena itu, kehidupan masyarakat Bajo tidak terlepas dari aktivitas yang berhubungan dengan laut. Suku bajo atau manusia perahu hidup layaknya seperti manusia yang hidup di darat. Suku bajo atau manusia perahu yang sejatinya lahir dan beranak pinak di laut tetap menjaga kelangsungan habitat atau lingkungan tempat tinggalnya dengan tidak melakukakn tindakan illegal atau merusak lingkungan. Walaupun sudah tersentuh dengan dunia luar atau modernisasi, suku bajo di Torosiaje tetap memegang nilai – nilai luhur budaya yang mereka anut.  Tidak ada sampah yang dibuang di laut atau berserakan di gang atau rumah penduduk. Semuanya serba teratur dan tertata rapi dan bersih. Laut sebagai sumber rejeki tetap mereka jaga untuk kelangsungan anak cucu mereka.

Nah, coba kita bandingkan dengan kehidupan di darat. Bukankah laut dan darat sama saja, tiada beda?

 

Iklan

12 thoughts on “Torosiaje, Cita Rasa Kota Di Atas Kampung Terapung

  1. “‘aku sangat teringat dengan kata yang menceritakan desa torosiaje laut ,bahkan aku ingin mau jalan-jalan ke wisata torosiaje,,saya sangat berterimakasih atas penulis sejarah suku bajo…terimakasih banyak,,???

  2. wah, kalau sudah ada lapangan tenisnya segala, apakah suku ini masih bermukim di atas laut? menarik sekali pemukiman yang tertata rapi di sini tidak berada di darat tapi di atas laut, dan mereka harus lebih menjaga lingkungannya, karena air laut lebih rentan mengalirkan sampah. jika ada sampah yang tergenang, tentu tidak sedap dipandang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s